Inilah Alasan Kenapa Orang Dewasa Juga Butuh Diary

13.20.00


Menulis buku harian atau diary memang terdengar identik banget dengan masa kecil dan remaja. Entahlah, masa kecil mimin masih dihiasi dengan saling tukar-menukar kertas file sama temen-temen dan nulis kegiatan harian dengan nulis diary *bukan update status di sosmed. Jadi semua kejadian yang dirasakan hanya kita dan buku itu yang tahu. Ya, kemungkinan rahasia itu bocor mungkin hanya sepersikian persen karena ibu atau kakak yang isengnya bukan main bacain buku harian.

Ternyata, nulis buku harian itu memang terbukti memberi manfaat yang sangat baik buat kesehatan. Bukan hanya bermanfaat saat kita masih kecil dan remaja, bahkan saat kita udah beranjak dewasa diary bisa menjadi senjata ampuh menuju kesuksesan. Beberapa figur tersohor dalam sejarah, seperti kaisar Romawi Marcus Aurelius dan kaisar Perancis Napoleon Bonaparte aja nulis buku harian. Contohnya ketuaan ya? Hehe..

Daripada mengumbar dan melampiaskannya di sosmed, mendingan mulai menata diri kamu dengan menulis diary atau jurnal harian. Ini alasannya!

Meski saat dibaca lagi tulisan kamu sangat lucu, nyatanya itulah yang bisa menunjukkan siapa kamu dari hari ke hari
Jurnal itu ibarat cerminan kehidupan kamu sendiri, ia ikut berkembang seiring dengan pertumbuhan usiamu. Misalnya aja saat kamu baru masuk sekolah, pengalaman pertama nembak dan ditembak orang yang kamu suka, temanmu meninggal, sampai sakitnya persahabatan kamu yang hancur karena orang ketiga. Semua kejadian itu bisa menunjukkan seperti apa kamu pada saat kejadian-kejadian tersebut kamu alami.

Meski lucu, itulah cerminan kamu di masa lalu. Bukan hanya kisah lucu aja, kisah sedih pun akan menguap kembali bersama dengan kenangan kamu yang telah kamu tuliskan dulu. Dari sanalah kamu bisa mengukur bagaimana kamu tumbuh semakin dewasa. Siapa tahu kan, buku harianmu menjadi sebuah saksi sejarah yang penting di masa mendatang. Haha lebay! Tapi Kitab suci dan nama para pahlawan yang diabadikan pun berasal dari jurnal harian kejadian pada masanya kan? Karena itu jangan pernah sepelekan tulisan diary kamu.

Kenapa harus malu, justru dengan tulisan itu ada motivasi yang besar dalam menyelesaikan setiap masalah
Saat membaca lagi buku diary, di sanalah kamu akan temukan bahwa setiap masalah yang kamu alami akan berakhir pada waktunya. Karena di setiap tulisan itu selalu ada refleksi diri yang diolah dengan otak kiri, yakni dengan perspektif yang analitis. Namun, kadang masalah hanya bisa dipecahkan dengan kreativitas dan intuisi yang ada di otak kanan. Sehingga menulis bisa memaksimalkan kemampuan ini untuk menemukan solusi.

Diary itu bukan untuk orang-orang introvert, justru untuk mereka yang percaya diri
Orang-orang yang menulis diary secara alami akan selalu bersikap jujur tentang apa yang sedang mereka rasakan. Hal ini bisa membuat mereka lebih percaya diri, terutama jika mereka menggunakan diary online (blog misalnya) karena mudah digunakan dan dapat akses oleh siapapun. Kita ambil contoh blog Raditya Dika yang menuliskan kegiatan sehari-harinya. Walaupun terlihat  lucu, namun itulah yang mampu membuat Radit menjadi orang sukses. Makanya, jika ada orang lain yang membaca buku harian-mu, ya nggak apa-apa. Karena suatu hal yang normal jika mereka juga merasakan tekad yang sama seperti kamu.

Bagi orang yang nggak bisa menuangkan perasaannya pada orang lain, diary menjadi alat penyembuh diri
Banyak orang menungkan perasaan sedihnya pada teman maupun saudaranya agar mereka bisa terasa lega. Namun, ada juga seseorang yang tidak ingin mengetahui masalah yang sedang ia hadapi. Jadi cara terbaik mereka adalah dengan mencurahkannya pada buku harian. Orang-orang yang menulis diary secara rutin mampu mendongkrak perasaan mereka sendiri. Menaruh semua pikiran mereka pada buku diary agar pikiran dapat dilihat secara nyata merupakan hal baik agar mereka bisa terus berkembang.

Bukan hanya jadi tempat sampah, diary bisa menghubungkanmu pada mimpi dan kesuksesan
Jurnal juga akan mengingatkanmu akan sesuatu yang harus kamu lakukan. Kamu akan menemukan ide-ide dan cara-cara baru yang sebelumnya nggak pernah kamu bayangkan. Atau dengan kata lain, menulis akan memancing kreativitasmu, sehingga kamu bisa dengan cepat menemukan pemecahan dari sebuah masalah yang sedang kamu hadapi. Ketika menulis, kamu diberi kesempatan untuk berkomunikasi dengan hati dan pikiranmu tanpa adanya penghalang. Jadi, menulis memungkinkanmu untuk mendengar suara-suara dari hati dan pikiran yang paling dalam.

Sudah terlalu banyak curhatan orang lain di Facebook, Twitter yang mengganggu feeds, kamu jangan sampai menjadi salah satu dari mereka ya!
Membaca kembali tulisan kamu aja kamu bisa ketawa sendiri, gimana orang lain yang melihat betapa konyolnya kisah kamu bertebaran di medsos?? Please deh! Semua orang tentu memiliki masalahnya masing-masing, namun nggak semua orang bisa peduli dengan masalah orang lain. Misalnya aja, kamu pernah kan lihat status orang yang nangis-nangis karena diputusin pacar? Apa tanggapan kamu? Ikutan sedih juga, atau malah ketawa?

Masalah yang kamu alami saat ini bahkan mungkin dipandang nggak layak dibaca untuk orang lain. Daripada dipermalukan di tempat umum, ya lebih baik tuangkan itu pada diary pribadi kamu.

Kamu bisa menuangkan semua ide kreatifitas dan uneg-unegmu pada benda yang selalu kamu rawat dengan rapi
Dimana biasanya kamu nulis? Kalau menurut mimin, buku masih jadi pilihan terbaik. Meski sekarang banyak peranti yang bisa mengganti buku harian seperti notes di smartphone, gawai, maupun laptop, namun peranti-peranti tersebut sangat riskan untuk rusak. Berbeda dengan buku catatan biasa yang bisa dengan mudah kamu simpan dan rawat.

Itulah beberapa alasan kenapa orang dewasa juga membutuhkan diary. Banyak lho orang yang sudah mendapatkan manfaat dari menulis buku harian secara rutin. Tuangkan aja ide, pikiran dan perasaan kamu dalam buku diary secara teratur. Kebiasaan ini nantinya nggak cuma mengisahkan kegalauan dan perasaan kamu aja, tetapi juga bagaimana usaha-usahamu bisa sukses kelak, hanya karena kamu meluangkan waktu untuk menulis diary. Have a great day!

You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook